Sejauh mata memandang hanya kebun karet, baik yang sudah
bekas di sadap ataupun yang masih tergolong muda. Tempurung kelapa kecil
tergantung erat ke batang yang sudah berulir itu. Di pinggir jalan tampak
tertumpuk “bantal-bantal” besar berwarna putih keabuan. Hasil dari
masing-masing tempurung itulah yang kemudian disatukan menjadi “bantal karet”
siap jual.
Di antara rerimbunan pohon bergetah ini, tampak pula kebun
dengan tanaman berduri halus. Nanas, buah manis sedikit keasaman, juga jadi
primadona di daerah ini. Kerap disebut Nanas Prabumulih, sebuah kota kecil di
Sumatera Selatan walaupun sentra produksi bukanlah di Prabumulih. Desa-desa di kecamatan
Belido, Belido Darat, Lembak, Gelumbang, dan Kelekar, adalah pusatnya produksi
nanas. Mungkin karena penjualan langsung banyak di Prabumulih, brand namapun
diambil kota ini. Begitulah, kerbau punya susu, sapi dapat nama, merujuk
istilah Melayu.
Sedikit lebih ke dalam dari pinggir jalan desa, tersimpan potensi lain yang tak kalah menarik. Hamparan
kebun sayur-sayuran membentang luas. Mulai dari Terong Ungu (Solanum
melongena L), Terong Lalap (Solanum melongena), Cabe Rawit (Capsicum
frutescens), Tomat Cung (Solanum lycopersicum),
Cabe Merah (Capsicum annuum L), Kacang Panjang (Vigna unguiculata),
Mentimun (Cucumis sativus), tumbuh dengan suburnya. Ia bagai lapangan
luas di antara tingginya pohon karet.
Wilayah itu, Kecamatan Kelekar, Kabupaten Muara Enim,
Sumatera Selatan. Melewati jalur lintas tengah Sumatera, mungkin tak akan
terlihat potensi besar ini, walau jaraknya hanya sekitar 5 km dari pinggir
jalan raya.
Tidak hanya Kelekar, daerah lain disekitarnya juga punya
potensi sama. Baik Gelumbang, Belido, Belido Darat dan bahkan sampai ke Lembak
dan Sungai Rotan. Andai di tempat lain, dikenal jenis pertanian tunggal yaitu
Karet ataupun Kelapa Sawit, maka di sekitar area ini, kreatifitas sudah muncul
menjadi jenis-jenis lainnya.
Memang tak banyak yang bertanam sayuran, tapi bukan berarti
potensi dan keuntungannya sedikit.
Merujuk pada data Kecamatan Kelekar dalam Angka tahun 2024,
usaha tanaman sayuran cukup menjanjikan di daerah ini. Produksi cabe keriting
dan cabe rawit mencapai 1.399 kuintal. Kacang Panjang 640 kuintal, Ketimun
2.908 kuintal, dan Terung 2.488 kuintal. Data ini adalah total dalam satu
tahun, dan cukup menjanjikan bagi daerah yang luasnya 154,99 km2.
“Kalau dalam kondisi begini kita bisa panen sekitar 1 sampai
2 pikul Terong. Biasanya pengepul datang kesini. Lumayanlah buat biaya
anak-anak dan keluarga,” ujar Jidah, warga Desa Suban Baru, petani sayuran yang
setia mendampingi suaminya mengolah lahan. 1 pikul adalah ukuran berat yang
setara dengan 100 kg. Jika terong dihargai senilai 4 ribu rupiah/kg berarti
untuk 1 pikul Jidah akan mendapatkan 4 juta rupiah. Sementara panen Terong
biasanya dilakukan 1 kali seminggu.
“Tapi itu bukan untuk saya semua. Kami ini kan hanya
pengolah lahan saja, bukan pemilik. Sistemnya Paroan, bagi dua dengan
pemilik saat panen. Pemilik lahan yang siapkan modal (pupuk dll), kita yang
kerjakan,” ujarnya.
Kendati demikian, Jidah dan keluarga merasa sudah sangat
bersyukur. Apa yang didapatkan bisa berguna untuk menghidupi keluarganya,
menyekolahkan anak-anak, dan memenuhi kebutuhan lain. “Kalau di sini
pengeluaran sehari-hari kan sedikit, semua ada disini kok,” ujarnya
terkekeh.
Jidah mengatakan apa adanya. Kebutuhan makan sehari-hari
yang mereka beli hanyalah Beras, Gula, Minyak Goreng, dan Garam. Selebihnya ada
di sekitar pondok mereka. Sayuran tersedia seluas mata memandang, cabe tumbuh
subur di sekitar pondok, ikan tinggal mengangkat pancing saja di sungai kecil
di sekitar kebun. Daging ayampun mereka tak membeli, karena ada beberapa ekor
ayam yang diternakkan khusus untuk kebutuhan sehari-hari.
Di sudut kebunnya, tampak 3 ekor kambing tertambat di dalam
kandang. Putra Jidah yang masih kecil sibuk menyorongkan dedaunan ke mulut
kambing-kambing tersebut. “Sambilan berkebun kan bisa ngangon juga,
rumput banyak disini. Kalau lebaran Idul Adha nanti kan harganya mahal juga,
lumayan buat nambah pendapatan,” ujarnya.
Untuk mengolah kebun sayuran, Jidah dan suaminya harus fokus
setiap hari. Oleh sebab itu, rumah sederhanapun dibangun di area kebun. Mereka
tinggal disitu dan beraktifitas sehari hari. Bisa dikatakan, apa yang dilakukan
keluarga ini, tidak pernah berhenti siklusnya. Tanaman yang ditanampun
berselang seling di area yang sama. Jika Terong sudah habis masa produktif,
maka Cabe akan masuk pula, kemudian Kacang Panjang, Tomat Cung, dan juga
Mentimun.
Dengan cara seperti ini, perawatan dan menjaga kesuburan
tanah menjadi sangat penting. Unsur hara tanah harus tetap terjaga sehingga
tanaman bisa terus berputar produksinya. Jidah dan suaminya tak punya pilihan
lain, pemupukan yang rutin harus dilakukan. Biaya produksi tentu menjadi besar
karena harga pupuk dan pestisida lainnya terus meningkat. Melalui sistem paroan
biaya produksi ini diselesaikan. Efeknya adalah pada harga jual. Tapi Jidah
tak bisa berbuat banyak karena memang tanpa dipupuk, tanamannya akan
menghasilkan apa-apa.
Dalam hitungan kasar, untuk lahan seluas 1 ha, kebutuhan
pupuk bagi tanah yang sudah dipakai berulang kali, cukup tinggi. Setidaknya
dibutuhkan modal sekitar 5 – 8 juta rupiah. Ini belum termasuk pestisida untuk
antisipasi hama, yang penyemprotan dilakukan secara rutin. Tetapi bagi petani,
solusi harus ada, karena kebun tetap harus diolah. Sistem Paroan adalah
solusi. Beban modal dan kebutuhan bisa berbagi dengan pemilik lahan, walau
nantinya akan berakibat juga pada hasil yang didapat.
“Tapi setidaknya, kebutuhan sehari-hari, sekolah
anak-anak, dan biaya lainnya masih bisa tertutupi. Tidak banyak, tapi
cukuplah,” ujar Jidah sambil terus memetik Terong Ungu.
Kecamatan Kelekar, bukanlah daerah yang terkenal, tapi
realitas di kawasan ini menjadi penanda kesatuan hidup manusia dalam
beradaptasi dengan alamnya. Jidah hanya satu dari sekian banyak keluarga
lainnya. Menggantungkan harapan pada satu jenis tanaman memang banyak dilakukan
warga, tetapi mengolahnya menjadi jenis lainnya, adalah sebuah inovasi. Jidah,
setidaknya bisa menunjukkan bahwa kampungnya bukan sekedar Karet atau Nanas.
Banyak kisah sukses petani yang mampu melakukan kegiatan diversifikasi
pertanian. Seperti kisah petani di Desa Mergasari, Cilacap Jawa Tengah yang
mampu meningkatkan taraf hidup dengan menanam ragam dan rupa tanaman. Ataupun
bagaimana Ibu-Ibu di Desa Pondok,
Grogol, Sukoharjo yang berhasil dengan program Lumbung Sayurnya. Kisah-kisah
itu menunjukkan bahwa keuletan dan keteguhan hati, kerja keras, dan terpenting
mampu memahami realitas alam, adalah anugerah yang harus diberdayakan.
Petani di Kelekar adalah sosok-sosok pejuang dari Sumsel.
Mungkin banyak juga ditempat lain, tapi semua mereka masih di kebun.
Tak jauh dari rumah Jidah, kokok ayam di kandang
sedikit memekik menetaskan telor, komat
kamit mulut kambing terus mengunyah rumput, gelepar ikan lele tampak membuncah
air. Matahari mulai jingga di ujung kebun, sebentar lagi Magrib. Nun di ujung
kebun, sang suami mulai membereskan peralatan penyemprotan hama. Jidah dan
suaminya menutup aktifitas hari itu, sembari azan Magrib mulai terdengar dari
toa Masjid. Kelekar mulai gulita






