Berharap Hujan
Karya : Muhammad Nabil Athalla
Hutan belantara, pohon yang rimbun, beragam hewan, dan
tumbuhan aneka warna. Menyatu dalam kedamaian, berbaur dengan kicauan burung,
keindahan bak lukisan. Bercengkerama dan
menyatu di area hijau nan luas.
Anak-anak berangkat sekolah dengan gembira, ibu-ibu
melantunkan do’a-do’a suci sambil menjemur bayinya dikelembutan mentari pagi.
Semua terasa sejuk, nyaman dan tenteram.
Pada masanya timbullah suatu petaka itu.
Kemarau melanda, kering, kerontang, angin bertiup kencang.
Tanah retak, ikan-ikan pergi, hijau berganti rerantingan. Panas.
Tiba-tiba si jago merah mengeluarkan lidahnya, meliuk
melalap ilalang dan ranting kering. Kerimbunan itu menjadi abu. Hijau hutan tak
bersisa. Semua tak ada lagi.
Yang tersisa hanya pekatnya asap, kabut panas, lidah api
menjulur, dan sesaknya nafas tenggorokan perih. Ibu-ibu, bapak-bapak, mengejang
didera asma yang kambuh karena menghirup sisa pembakaran. Para bayi dikurung di
kamar, tak lagi dijemur dicerahnya pagi. Matahari itu tak terlihat, hanya samar
berbalut lembayung merah.
Ada tangan-tangan jahat yang memantikkan api, yang menyangka
bahwa petaka bukan untuk dirinya. Ada jari-jari penuh dosa yang mengobarkan
hawa panas, lupa pada Yang Kuasa. Tak hirau bahwa sawah, ladang, hutan, kebun,
rawa, semua adalah untuk hidup manusia. Bumi yang harus dijaga. Mereka
menghabisinya, hanya demi keserakahan atau mungkin karena kebodohan.
Tak ada yang bisa diperbuat, tak ada yang bisa diilakukan.
Hanya lantunan doa setiap malam, berharap hujan segera menyiram api.
Palembang, 18 April 2025





