Saat Rawa Ogan Ilir Kehilangan Airnya

Beberapa bulan lalu, di musim hujan, rawa Ogan Ilir adalah cermin raksasa. Air keperakan membentang hingga ujung mata, diselingi hijaunya purun dan pohon gelam. Pagi hari, tanduk-tanduk hitam kerbau rawa menyembul di permukaan air saat mereka berenang beriringan. Menjelang magrib, jingga matahari memantul di air, di menara masjid, di atap rumah panggung. Saya pernah menyebutnya sunset milik Ogan Ilir.

Hari ini saya kembali melewati jalan yang sama. Tetapi pemandangan di kiri dan kanan seperti milik daerah lain.

Cermin itu telah pecah. Yang terhampar kini adalah tanah kering kerontang, retak-retak, dengan rumput layu yang berdiri kaku. Danau-danau kecil yang dulu saling menyambung sudah lenyap. Orang yang baru pertama kali datang mungkin mengira ini savana. Mereka tak akan menyangka bahwa beberapa bulan lalu, di tempat yang sama, air menggenang luas dan hijau merata.

Kemarau juga membawa tamu yang tak diundang, Karhutla. Di mana-mana lahan terbakar. Rumput dan semak yang mengering adalah bahan bakar yang sempurna, dan satu percik api cukup untuk menjalar jauh. Kerugiannya tidak berhenti pada lahan. Udara yang dihirup warga ikut terganggu.

Yang paling membuat saya risau adalah para penghuninya. Di musim hujan, kerbau rawa tampak gagah berenang menyusuri lebak. Kini mereka berjalan pelan di tanah keras, menunduk mencari sisa rumput, seolah menghemat tenaga. Tak ada air untuk berenang, tak banyak pakan untuk dikunyah. Bangau yang biasanya mudah dijumpai kini tinggal sedikit. Ikan-ikan, entah sepat, gabus, atau toman, entah ke mana.

Saya berdiri lama di tepi rawa yang kering itu. Pemandangan ini bukan sekadar muram. Ia adalah potret betapa rapuhnya hidup yang sepenuhnya digantungkan pada air. Rawa punya ritme sendiri, penuh saat hujan, surut saat kemarau. Masyarakat Ogan Ilir sudah lama hidup selaras dengan ritme itu. Namun kemarau seperti hari ini diperkirakan akan terus berulang setiap tahun.

Selama ini lebak lebung dipandang sebagai lumbung. Lelang lebak lebung menyumbang miliaran rupiah bagi pendapatan daerah, ikan asin air tawar menghidupi banyak dapur, dan pindang ikan menjadi menu andalan pengunjung. Semuanya bertumpu pada satu hal, air dan ikan. Ketika air terlalu cepat surut dan ikan menghilang, yang terguncang bukan hanya pemegang hak kelola, melainkan seluruh rantai di bawahnya. Itulah para penangkap ikan, pengolah ikan asin, hingga pedagang di warung pinggir jalan.

Kekeringan ini menyampaikan pesan yang tegas, menggantungkan seluruh hidup pada rawa saja adalah pertaruhan. Sudah waktunya masyarakat Ogan Ilir membiasakan diri mencari peluang ekonomi lain, sebelum kemarau berikutnya memaksa mereka melakukannya dalam keadaan terdesak.

Peluang itu sebenarnya tidak harus dicari jauh-jauh. Ikan asin dan gula puan, dua produk khas yang sudah dikenal, tahan disimpan dan bisa dijual sepanjang tahun. Dengan pengemasan yang baik dan pemasaran yang lebih rapi, keduanya bisa menjadi sumber penghasilan yang tidak bergantung pada tinggi muka air. Peternakan kerbau perlu cadangan pakan untuk musim kering, tidak cukup mengandalkan rumput rawa. Kolam yang dirancang untuk menampung air bisa membantu budidaya ikan tetap berjalan ketika rawa mengering.

Ogan Ilir juga punya modal lain. Wilayah ini dikenal sebagai daerah seribu santri, dengan pesantren-pesantren besar dan kampus-kampus besar di dekatnya. Mobilitas orang dan kebutuhan mereka, mulai dari makanan, penginapan, hingga jasa, adalah pasar yang tidak mengenal musim.

Wisata pun perlu dibaca ulang. Dulu saya menulis tentang pesona rawa di musim hujan, dan itu tetap benar. Namun wisata yang hanya hidup di satu musim tak bisa menjadi satu-satunya tumpuan. Ia harus menjadi salah satu dari banyak kaki, bukan satu-satunya penopang.

Pemerintah pun punya pekerjaan rumah. Rawa tidak cukup dipandang sebagai sumber PAD. Warganya perlu dilatih, difasilitasi modal, dan dilindungi dari kebakaran. Pencegahan Karhutla harus sama seriusnya dengan pelaksanaan lelang.

Sore itu saya masih sempat menyaksikan matahari turun. Semburat jingganya tetap datang, tepat waktu seperti biasa. Bedanya, kali ini ia jatuh di atas tanah retak, bukan di permukaan air. Tidak ada pantulan, tidak ada kerbau berenang, tidak ada bangau yang berdiri menunggu. Hanya keheningan yang panjang.

Saya tahu hujan akan kembali. Rawa akan terisi, purun akan hijau lagi, dan tanduk-tanduk hitam itu akan kembali menyembul di permukaan air. Alam punya caranya sendiri untuk pulih. Yang belum tentu pulih dengan sendirinya adalah kesiapan kita. Pertanyaannya bukan lagi kapan hujan datang. Pertanyaannya adalah, ketika kering itu datang lagi tahun depan, apakah masyarakat Ogan Ilir sudah punya pegangan lain selain rawa?

Share it :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top