Dulu, kakek kita membaca langit sebelum membuka ladang.
Marga-marga menjaga rawa seperti menjaga anak sendiri[1],
dan lebak lebung[2] mengajarkan berbagi ikan, bukan berebut tanah.
Ada pantang yang tak tertulis dan ada malu bila hutan terluka.
Lalu kanal-kanal itupun datang.
Sawit dan Akasia berbaris sampai ke bibir cakrawala.
Gambut mulai kehausan dan sungai menyempit,
dan sejak 1997 api bagai belajar berjalan sendiri.
Adat perlahan tinggal cerita hingga tanah berubah menjadi angka.
Kini asap telah menjadi musim.
Suhu naik dan ruang airpun hilang.
Anak-anak menghafal kabut sebelum menghafal doa,
sekolah diliburkan, napas dibatasi masker.
Kami bertanya: siapa yang lupa? Hutan atau kita?
Kabarnya satelit menghitung titik panas,
langit memberi kabar lewat angka dan peta[3],
tetapi kabar itu sering tiba setelah api lebih dulu sampai.
Sebenarnya ulama telah berfatwa[4],
namun bara di dada belum juga padam.
Barangkali jawabannya sederhana:
basahi lagi lahan-lahan gambut,
hidupkan lagi adat kita,
dengar lagi data langit,
dan jadikan masjid serta balai desa tempat belajar mencintai rawa.
Bumi ini amanah, bukan warisan untuk dibakar.
Bacalah langit. Begitu petuah para leluhur
[1]Pemerintahan marga di Sumatera Selatan dihapus pada awal 1980-an.
[2]Sistem adat pengelolaan perairan rawa di Sumatera Selatan.
[3]BMKG menerbitkan prakiraan musim dan peringatan dini tingkat kemudahan kebakaran.
[4]Fatwa MUI No. 30 Tahun 2016 mengharamkan pembakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kerusakan.





