Sudah cukup diketahui kiranya bahwa inti dari komunikasi adalah persepsi. Persepsi ini ada pada diri manusia. Saat manusia mempersepsi sesuatu maka itu adalah komunikasi (Mulyana, 2001). Lebih dalam lagi, jika dibahas apa sebenarnya hakekat ilmu komunikasi (ontologi dalam bahasa filsafat), maka arahannya adalah pada meaning (pemaknaan pesan). Melakukan pemaknaan pesan berarti juga adalah melakukan proses mempersepsi. Oleh karena itu, saat berlangsungnya peristiwa komunikasi (apapun itu), hakekatnya adalah proses pemaknaan pesan. Sesuatu yang belum atau tidak memiliki makna kemudian dimaknai, memaknai ini berlangsung dalam peristiwa komunikasi. Contoh sederhana, saat saya melihat asap membumbung di kejauhan, saya berkata “wah itu ada kebakaran!”. Pada saat itu saya sedang memaknai sesuatu, yaitu asap, dan itu adalah peristiwa komunikasi, karena saat saya memaknai, sebenarnya saya sedang mempersepsi sesuatu.
Atas dasar itu, maka cakupan keilmuan komunikasi menjadi sangat luas. Ia bisa berada di mana saja dan masuk ke wilayah ilmu mana saja. Etnoekologi Komunikasi sendiri adalah salah satu konsep dan juga sebuah metode kajian yang bisa diterapkan dalam memahami rangkaian dan pola hubungan manusia dengan lingkunganya. Untuk cantelan awal bisa dipakai gagasan dalam Komunikasi Lingkungan (environmental communications), sebagaimana dijelaskan oleh Cox dalam tulisannya “Environmental Communication and Public Sphere” (2010:20), menyatakan bahwa komunikasi lingkungan adalah sarana konstitutif dan pragmatis bagi pemahaman manusia dengan lingkungan serta hubungan manusia dengan alam. Hal ini adalah media simbolis yang digunakan dalam mengkonstruksi masalah-masalah lingkungan dan menegosiasikan respon yang berbeda dalam masyarakat.
Dalam tulisan lain, Alexander G Flor (2004:5) berkata bahwa komunikasi lingkungan adalah aplikasi dari pendekatan-pendekatan, prinsip-prinsip, strategi, dan teknik-teknik komunikasi dalam upaya melindungi dan mengelola lingkungan. Secara sederhana dimaksudkan sebagai pertukaran informasi, pengetahuan dan kearifan antara manusia dengan lingkungan. Berdasarkan jabaran Florr, tampak bahwa komunikasi seharusnya tidak semata-mata pendukung pengelolaan lingkungan, tetapi harus menjadi bagian integral dari hal tersebut. Apabila hanya sebagai pendukung, maka yang terjadi adalah adanya kecenderungan komunikasi digunakan sebagai alat untuk memanipulasi program-program yang akan dilaksanakan.
Etnoekologi Komunikasi berada pada posisi ini, menempatkan gagasan ilmu komunikasi sebagai titik penting dalam melihat kesatuan hubungan manusia dengan lingkungan. Etnoekologi sebenarnya konsep yang sudah lama dikenal dan berkembang di ranah keilmuan Antropologi, serta di ilmu lingkungan. Etnoekologi berkembang seiring dengan kemunculan berbagai pendekatan lain seperti etnobotani dan etnozoologi (Iskandar, 2012:14). Dalam keilmuan lain sering pula kita mendengar terminologi-terminologi seperti etnohistory, etnografi, etnosastra, dan sebagainya. Untuk memahami ini sebenarnya tidak susah, setiap kata-kata “etno” selalu merujuk pada konteks etnis atau masyarakat tertentu. Jadi misalnya, etnobotani, berarti pemahaman tentang tumbuh-tumbuhan dari sudut pandang masyarakat setempat. Kira-kira seperti itu sederhananya.
Kemunculan konsep etnoekologi, diawali oleh gagasan seorang Antropolog yang bernama Harold Conklin (1954). Conklin saat itu sedang meneliti tentang kehidupan pertanian masyarakat di Hanuno, Philipine. Saat itulah Conklin menilai bawa para akademisi seharusnya bisa mengkolaborasikan berbagai aspek kajian dan teknik-teknik yang digunakan seperti ekologi budaya, ekologi politik, dan dengan teknik-teknik lainnya. Penting juga dipahami bahwa pemaknaan tersebut haruslah didasarkan pada sudut pandang masyarakat setempat yang sudah hidup puluhan tahun di lingkungan tersebut. Inilah yang kemudian disebutnya sebagai etnoekologi.

Konsep ini diperjelas dan dikembangkan oleh banyak ahli. Brosius (1986) adalah salahsatunya. Tekanan utama dari Etnoekologi, versi Brosius, adalah pada penggambaran dan penjelasan pengetahuan dari sudut pandang budaya. Ini menjadi penting, karena aspek budaya (kebudayaan secara luas) dianggap komponen paling berperan dalam aktifitas manusia. Salah satu unsur budaya itu adalah bahasa, yang terikat dengan lingkungannya. Oleh karenanya, etnoekologi juga akan berhubungan dengan ekologi linguistik, ekologi budaya, dan termasuk juga ekologi manusia.
Hal penting dalam Antropologi Lingkungan, terutama yang menggunakan konsep etnoekologi adalah pemahaman bahwa manusia harus dilihat dari satu jalinan hubungan dengan lingkungannya. Posisi manusia dengan lingkungan harus dilihat dalam perspektif apa yang dialami, dipikirkan, dan dipahami masyarakat pada konteks budaya mereka masing-masing. Ini yang kemudian dikenal dengan istilah emic, yang selanjutnya mengalami proses rasionalisasi yang disebut dengan ethic.
Melalui pendekatan seperti ini, maka tidak ada lagi istilah manusia (terutama konteks masyarakat lokal) yang merusak lingkungan, penyebab kebakaran hutan dan lahan, penyebab banjir dan sebagainya. Etnoekologi percaya bahwa manusia menjalin interaksi dengan lingkungannya, yang sifatnya saling menguntungkan. Ini yang disebut oleh AT Rambo (1984) bahwa terjadi pertukaran arus energi, materi, dan informasi antara manusia dengan lingkungan yang disebutnya sebagai social system ecosystem interaction models. Rambo percaya bahwa selama ini kajian yang banyak dilakukan adalah pada aspek energi dan materi, tetapi pada konteks informasi justru masih sangat jarang dilakukan.
Pada konteks inilah, ketika dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi, maka keterikatan manusia dengan lingkungan serta pola hubungan yang terjadi, pada dasarnya adalah sebuah mekanisme pemaknaan pesan tersendiri. Hasil riset saya di beberapa daerah di Sumatera Selatan (Indonesia), terutama komunitas Semende Darat di Kabupaten Muara Enim, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pola pemaknaan tersendiri terhadap lingkungan alamnya, memiliki mekanisme tersendiri dalam memaknai alam tersebut, begitupun juga memiliki perlakuan tersendiri, yang semuanya ditujukan untuk kelanggengan kehidupan mereka. Bahwa kemudian terjadi pergeseran, terjadi perubahan dan terjadi distorsi, itu sudah sesuatu yang diluar konteks etnoekologi komunikasi. Etnoekologi memiliki keterikatan dengan nilai-nilai kearifan lokal (lihat Yenrizal, 2015, Lahajir, 2009).
Gagasan penting etnoekologi komunikasi adalah komunikasi antar sesama anggota masyarakat mengenai fenomena lingkungan disekitar mereka. Dasarnya adalah kesatuan hubungan manusia dengan lingkungan (sistem ekologi). Ini tidak bisa dilupakan bahwa komunikasi adalah pemaknaan pesan. Berkomunikasi tentang lingkungan adalah memaknai tentang lingkungan, yang didasarkan pada aspek kesatuan hubungan yang harusnya terbentuk.
Titik awal dari masuknya ilmu komunikasi pada etnoekologi komunikasi, mengambil pijakan dari tradisi sosiokultural sebagaimana dijelaskan oleh Littlejohn (2009). Aspek sosial budaya dalam sebuah masyarakat akan menentukan bagaimana bentuk dan pola komunikasi yang terjadi. Ini yang kemudian diselaraskan dengan teori interaksionisme simbolik dari Mead dan Blummer, sehingga menjadi sangat krusial ketika manusia memaknai dan berinteraksi tentang lingkungan sekitarnya. Pendekatan ilmu komunikasi dalam melihat interaksi manusia terhadap lingkungan adalah titik sentral dalam etnoekologi komunikasi. Ini bukan semata-mata komunikasi lingkungan sebagaimana pernah digagas oleh Jurin (2010), Cox (2010 ataupun Flor (2004), tetapi lebih menusuk lagi adalah pada aspek kesatuan hubungan manusia dengan lingkungan alam yang menunjukkan pemaknaan tersendiri terhadap lingkungan yang ada.
Etnoekologi komunikasi adalah sebuah konsep, yang tentu saja masih membutuhkan pematangan untuk naik ke level teori. Tetapi gagasan ini sudah bisa diuraikan dan diturunkan menjadi pendekatan riset tersendiri. Nantinya akan muncul metode-metode dalam pelaksanaan etnoekologi ini, serta bagaimana secara ilmiah riset-riset dengan tema etnoekologi komunikasi dilaksanakan. Muaranya nanti adalah pada aspek metode riset etnoekologi komunikasi.





